Menjelang sore hari, sekitar pukul empat, suasana di Pasar Rukuwa mulai ramai. Terletak di pesisir Pulau Binongko, pasar ini menjadi tempat berkumpulnya warga dari berbagai penjuru desa untuk berbelanja kebutuhan harian. Aroma ikan segar, sayur mayur, dan rempah khas daerah bercampur menjadi satu, menandakan denyut ekonomi kecil yang tetap hidup di ujung selatan Wakatobi.
Di antara deretan lapak sederhana, terlihat para pedagang sibuk menata dagangan mereka. Ada yang menjual hasil kebun seperti ubi, pisang, dan sayur segar, sementara yang lain menawarkan ikan hasil tangkapan pagi. Warga yang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga untuk bertukar cerita setelah seharian bekerja. Inilah yang membuat pasar sore Rukuwa terasa lebih dari sekadar tempat jual beli — ia adalah ruang sosial yang menghidupkan kebersamaan masyarakat Binongko.
Salah seorang pedagang, ibu Laila, mengatakan bahwa pasar sore ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. “Dari dulu orang Rukuwa kalau sore ke pasar, entah beli ikan, sayur, atau hanya sekadar ngobrol,” tuturnya sambil menimbang cabai. Tradisi itu masih bertahan hingga kini, meski zaman semakin modern.
Di sisi lain pasar, anak-anak tampak bermain di sekitar lapak, sementara para pemuda membantu orang tua mereka menurunkan barang dagangan. Aktivitas sederhana ini menggambarkan kehidupan yang bersahaja namun penuh semangat gotong royong. Ketika matahari mulai condong ke barat, cahaya senja menyinari wajah-wajah para pedagang yang tetap tersenyum melayani pembeli terakhir.
Bagi warga Binongko, pasar sore Rukuwa bukan hanya tempat transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi cerminan budaya masyarakat yang saling mengenal satu sama lain. Di sini, kabar terbaru antar desa sering beredar, dan hubungan sosial antarwarga semakin erat. Dalam kesederhanaannya, pasar ini menyimpan kehangatan yang jarang ditemui di tempat lain.
Seiring berjalannya waktu, pemerintah desa juga mulai memperhatikan kebersihan dan penataan area pasar. Upaya ini bertujuan agar pasar Rukuwa tetap nyaman dan menarik bagi pengunjung. Beberapa warga berharap, ke depan pasar ini bisa dikembangkan lebih baik tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
Saat langit mulai berwarna jingga, satu per satu pedagang menutup lapak mereka. Suara tawa dan obrolan masih terdengar di antara sisa-sisa kesibukan hari itu. Senja menandai berakhirnya aktivitas pasar, namun meninggalkan cerita hangat tentang kehidupan sederhana di Pulau Binongko.
Pasar sore Rukuwa bukan hanya tempat mencari kebutuhan harian, tetapi juga saksi kehidupan masyarakat yang terus menjaga kebersamaan, semangat kerja keras, dan rasa saling peduli. Di tengah perubahan zaman, pasar ini tetap menjadi denyut kehidupan yang hidup menjelang senja — simbol kehangatan dan keteguhan warga Binongko.
#Binongko_Keren #Binongko_Indah #Ayo_Berkunjung_Ke_Binongko #Binongko Maju
